Logistic and Supply Chain Camp: Infusing Supply Chain Management (SCM) Concepts in Agribusiness

11:05 PM

Foto bersama pada hari kedua LSCAMP 2017.
Halo kawan-kawan semua, kembali lagi dengan cerita baru saya seputaran bidang ilmu agroindustri. Kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya mengenai Supply Chain Management (SCM) terutama setelah saya mengikuti kegiatan Logistic and Supply Chain Camp (LSCAMP) 2017. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada orang tua saya yang telah mensupport penuh saya untuk ikut acara ini, terlebih setelah usaha saya mencari sponsor gagal wkwk. Kedua buat Andi Suryanto, sahabat karib saya yang telah rela bangun subuh untuk mengantar saya ke bandara dengan beberapa banyolan dan sarannya, terimakasih banyak. Okay tanpa panjang lebar lagi, berikut secuil cerita saya setelah mengikuti LSCAMP 2017.

Pembukaan LSCAMP 2017 oleh Rektor ITS
LSCAMP 2017 adalah sebuah kegiatan yang diakan oleh Laboratorium LSCM ITS dengan gagasan dan prakarsa bersama Indonesian Supply Chain dan Logistics Institute (ISLI). ISLI sendiri menurut Pak Nyoman Pujawan (Presiden ISLI) terbentuk setelah kegundahan beberapa dosen yang menekuni serta bergerak dalam bidang ilmu SCM yang merasa belum memiliki wadah sharing  serta wadah untuk memberikan langkah yang kongret dan terstruktur untuk mempercepat peran SCM di lapangan bersama pemerintah. Pesera LSCAMP 2017 ini dapat dibedakan menjadi 2 yakni mahasiswa dan praktisi akademisi dari dosen-dosen di indonesia. Acara ini adalah acara pertama yang dibuat oleh ISLI setelah terbentuk sekitar 2 tahun yang lalu. Konsep acara adalah bagaimana menyatukan akademisi, praktisi dan mahasiswa di dalam satu wadah kegiatan yang fun untuk dilakukan namun juga sarat dengan trasfer ilmu bidang logistics dan SCM.

Hari pertama kegiatan kita berkumpul di ruang departemen Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, ITS. Di ruangan ini dilakukan opening ceremony yang diisi dengan pelaporan kegiatan oleh Ketua Panitia/Ketua Lab. LSCM ITS (Dr. Eng. Ir. Ahmad Rusdiansyah, CSCP., CLTD), Presiden ISLI (Prof. Ir. I Nyoman Pujawan, M.Eng., Ph.D., CSCP) dan terakhir pembukaan acara dilakukan langsung oleh Rektor ITS, Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D. Selanjutnya di ruangan yang sama selanjutnya berlangsung kegiatan workshop dari 2 pembicara yakni, Pak Tomy (Dr. Tomy Perdana, S.p., M.M), Pak Venta (Ir. Venta Agustri). Pak Tomy memberikan materi mengenai konsep SCM dan Implementasinya pada pengalaman beliau di Katata Farm dan Pak Venta memberikan pemaparan mengenai pengalamannya berkebun sayur di kota besar (Surabaya) dengan metode Hidroponik. Menurut Pak Tomy SCM sangat penting untuk dipelajari dan di terapkan pada setiap jalur sistem untuk mendapatkan hasil yang optimal, tidak terkecuali pada bidang Agribisnis. Saat ini Pak Tomy bersama BI sedang membuat sistem agar pembiayaan petani untuk bertani diawal mendapatkan skema pembiayaan yang membuatnya punya posisi tawar saat petani menjual hasil taninya ke pengepul. Yang sering terjadi adalah petani mencampur adukan urusan kerjasama usaha dan kerjasama dana, petani biasanya karena kebutuhan tertentu meminjam uang di pengepul dan dengan demikian saat panen pengepul bisa dengan seenaknya menekan harga di petani. Pak Tomy sharing tentang bagaimana ia memberdayakan petani kecil di daerah Jawa Tengah untuk menanam dan menyadari menjadi bagian dari entity dari suatu sistem SCM. Selain itu beliau juga menceritakan berkerjasama dengan hero yakni perusahaan yang membantu mengembangkan petani yang beliau bina. Pak Venta menceritakan bagaimana ia yang merupakan lulusan TS sekarang menekuni bidang agribisnis khususnya sayur hidroponik. Selanjutnya hari pertama dilanjutkan ke kebun ITS dan kebun sayur surabaya pak Venta. Terakhir kami menju malang untuk menginap dan persiapan hari kedua.

Pada hari kedua acara dimulai dengan senam bersama dan dilanjutkan dengan seminar yang diisi dengan Buk Maya (Maya Stolastika) dari Finalist Duta Petani Muda, Bu Niniet (Dr. Niniet Indah Arvitrida) S3 ITS, Pak Tomy dan Pak Nyoman. Bu Maya memberikan motivasi bahwa kita pemuda sangat perlu untuk mulai bergerak namun harus didasari dengan passion yang tepat. Baginya kesusksesan adalah kemampuan untuk bertahan dan keberlanjutan dalam suatu usaha yang dilakukan. Bu Maya memulai Usaha 8 th yang lalu dengan nama Tweve’s (Twin Wealth Vegetable Supply) yakni usaha sayur organik. Menurutnya usaha yang baik adalah usaha yang diajalankan berdasarkan dengan passion atau kecintaan, dan usaha dikatakan sukses ketika usaha tersebut mampu bertahan dari berbagai permasalahan yang ada. Selanjutnya Ibu Niniet yang baru saja menyelesaikan studi doktornya di USA ini memaparkan bagaimana Agri-SCM dan karakteristik produk perishable. Beliau mengawali pemaparnya dengan memberikan beberapa gambaran keadaan pertanian di Indonesia. Menurut WHO, pada tahun 2050 jumlah manusia di dunia akan mencapai angka 9,6 Miliar jiwa dari jumlah + 7 Miliar jiwa pada tahun ini. Selain itu dari data BPS, jumlah petani di Indonesia berkurang 1,49% per tahun dan saat ini kekurangan tenaga petani di Indonesia kurang lebih 12%. Hal ini lah yang menurut Ibu Niniet menjadi peluang sekaligus ancaman. Selain itu, Ibu Niniet menerangkan bahwa logistic cost kita di Indonesia lebih besar dari 20% dari GDP yang sangat membani APBN kita (INA). Seperti yang kita ketahui bersama, produk pertanian bersifat perishable yaitu musiman, menghabiskan tempat dan tidak tahan lama sehingga perlu dapat penanganan yang tepat. Secara garis besar SCM memiliki 3 fungsi aliran utama yang hendaknya lancar dari hulu hingga hilir yaitu aliran material, informasi dan aliran uang. Terkait peranan hulu-hilir, Ibu Niniet juga memaparkan mulai dari pemasok pertanian seperti benih, pupuk dan mesin pertanian sampai pada pasar dan pemasaran, serta dijelaskan pula tantangan operasional yang ada pada aliran SCM tersebut. Intinya, solusi yang harus segera dilakukan adalah bagaimana ada manajemen operasi (MO) pada proses pembuatan barang dan jasa pertanian dengan efektif SCM yaitu koordinasi, kalaborasi dan kepercayaan.

Lanjut nih ke Pak Tomy lagi, pada kesempatan sharing kedua ini Pak Tomy lebih dalam lagi menceritakan hal-hal teknis dan pengalaman yang dihadapinya selama menggeluti bidang pertanian dan SCM-nya, termasuk kerjasama dan kiat yang sedang beliau lakukan. Ada yang menarik pada pemaparan kali ini, Pak Tomy memberikan sebuah video profil sebuah perusahan pertanian dengan memberikan sebuah kata pengantar bahwa telah terjadi 37% penurunan petani hortikultura (menurut BPS). Terbanyang perushaan mana yang beliau jadikan contoh kasus? Jadi perusahaan itu bernama Great Giant Peneapple, sebuah perusahaan anak negeri yang berpusat di pulau sumatera dengan fokus menanam dan mengolah komuditi nanas. Intinya penjelasan Pak Tomy dengan studi kasus pada  perusahaan ini keren! Jikalau ada waktu saya akan bahas pada posting berikutnya ya J

Terakhir Pak Nyoman Pujawan, disela-sela memimpin acara LSCamp untuk akademisi menyempatkan memberikan motivasi dan sediikit rencana beliau untuk mahasiswa SCM. Disampaikan akan ada official grup untuk mahasiswa dan dosen yang tergabung dalam acara LSCamp ini, kemudian materi berkelanjutan pada email dan support kuliah online di ISLI untuk mahasiswa yang tergabung dalam kegiatan LSCamp. Kamu juga tertarik dengan Logistic dan Supply Chain Management? Tenang, jadi Pak Nyoman juga menyampaikan akan membuka kelas untuk mahasiswa belajar LSCM di ISLI. So, kalau kamu tertarik, dapat komentar di bawah ini dan selamat bergabung sebagai keluarga, yey!

Setelah materi-materi, hari kedua diisi dengan sebuah game kece tentang pertanian dan rantai pasoknya, yaitu Veggie Game. Jadi sebenarnya Veggie Game adalah pengembangan yang dilakukan oleh laboratorium Teknik Industri ITS bersama ISLI dari game sebelumnya yaitu Beer Game. (Yang penasaran game ini komen dibawah ya, akan saya bahas pada post yang berbeda hehe)

Nah, untuk hari ketiga, seluruh peserta diajak bergegas ke Kaliandra Farm and Resort untuk melihat penanganan pertanian organik dengan pemberdayaan masyarakat disana. Setelah saya mendapat penjelasan dan berkeliling kebun, pengelolaan resort dan farm di Kaliandra terintegrasi dan memberdayakan masyarakat sekitar dengan disediakannya blok-blok green house untuk petani yang mau bekerjasama. Blok kebun pun dibagi-bagi untuk tiap komoditi, namun memang yang paling banyak adalah sayur. Oh ya, kita juga diajak untuk melihat bagaimana penanganan pascapanen sayur dan pengemasan kreatifnya. Wait, kamu udah familiar gak sih sama Kaliandra? Itu lo tempat shuting film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.

Okay, sekian dulu cerita saya mengenai pengalaman saya selama 3 hari di Trawas, Surabaya 24 - 26 Februari 2017  dalam mengikuti LSCamp. Semoga senang membacanya, dan bila terasa bermanfaat silahkan di like dan share ya.

Salam Agroindustri.

You Might Also Like

0 comments

Terimakasih telah berkunjung. Semoga hari anda menyenangkan. Salam hangat,