Satu Hari Lebih Dekat dengan Food Industry: Sebuah Pesimpangan Langkah Anak Pangan

5:34 PM

(Kiri-kanan) Putu Genio Ardisuana, Ida Bagus Putu Wahyu Permana, I Gusti Made Teddy Pradana
Sabtu, 2 April 2016, Saya  berkesempatan berkerjasama dengan teman-teman FORAGRIN Universitas Udayana serta HIMATETRI, mengadakan sebuah acara yang bertajuk “Satu Hari Lebih Dekat dengan Food Industry”. Kala itu kita mengambil tema “buka pikiran, sudah saatnya kita berkontribusi untuk industri pangan kedepan”. Bukan tanpa alasan kita memilih tema tersebut, karena tentunya dibalik tema tersebut tersirat harapan besar kami akan langkah pergerakan anak industri pertanian kedepan, khususnya menanggapi carut marut industri pangan di dalam negeri.
Mungkin, di Udayana sendiri bidang ilmu ini tak begitu popular bila di banding di kampus dataran sejuk, IPB. Namun industri pertanian IPB pun mungkin akan kalah tenar dengan jurusan Kedokteran, Ekonomi dan ataupun keTeknikan. Well, mungkin ini diakibatkan oleh gengsi yang sudah sedari dulu menyusupi, bila mengambil bidang ilmu yang terkait dengan kata ‘pertanian’. Benarkah jurusan tersebut lebih baik dengan yang lainnya ?
Hi anak Industri Pertanian dimanapun kalian berada. Khususnya adik-adik angkatan saya di UNUD, saya ingin berbagi sedikit tentang hasil diskusi, nonton dan sharing kita pada acara 2 April kemarin. Acara yang sangat menarik bagi saya ini memberikan setidaknya 4 poin utama dan 1 poin pertanyaan besar bagi kita semua.

Poin Pertama, sistem makanan kita sudah diatur dalam roda makanan global. Bibit sebagai awal dari semua tumbuhan sudah dibuat dengan bibit yang telah dimodikasi gennya (dikenal dengan GMO – Genitic Modification Organism). Padi-padi kini tak lagi harus panen setahun, sekarang lebih singkat dan di design terlihat lebih mudah untuk kita lakukan. Jagung tak lagi beragam jenis, bentuk dan hasil panen kini dibuat seragam dengan waktu minimal dapat menghasilkan hasil yang banyak serta dapat diproses dengan seminimal mungkin orang dan biaya. Perawatannya pun yang telah diatur sedemikian rupa, misalnya dengan dengan pestisida, yang sebenarnya juga diprodusksi oleh perusahaan yang sama. Dalam film, dikatakan Monsanto, adalah perusahaan yang menjadi ujuk tombak pembuatan organisme dengan gen yang dimodifikasi, juga pupuk atau pestisida unggulannya seperti Rundup.

Kedua, dalam film dapat dilihat dua perusahaan yang memegang daging, baik ayam, sapi, maupun ikan. Konsepnya serupa, semua diproses agar menghabiskan biaya seminimal mungkin, dengan menghasilkan produk yang banyak. Perternakan kini tak lagi peternakan, melainkan pabrik. Semua hewan diberikan makanan yang bersumber dari bahan dengan  nilai yang paling rendah, -jagung. Jagung yang didapatkan tentunya berasal dari perusahaan yang mampu memberikan supplay dalam jumlah yang banyak serta murah agar mampu menekan biaya produksi, jadi sangat beralasan bila sudah terjadi rantai ketergantungan antara perusahan yang saya sebutkan dalam poin pertama dengan perusahaan daging ini. Ayam makan jagung, sapi dimodifikasi untuk bisa memakan jagung, ikan pun demikian. Alhasil semua makanan yang ia produsksi menjadi murah dan dapat dibuat massal. Ide yang sangat brilian, namun juga sangat beriko. Terlebih terdapat beberapa kasus keracuanan dan kematian dikarenakan kontaminasi dari bakteri e-coli dalam perut sapi yang bermutasi (berevolusi) menjadi bakteri pantogen (negatif) pada produk pangan. Dalam film diperlihatkan bahwa perusahaan yang menjadi puncak hirarki penghasil daging adalah Smithfield dan Tyson.

Ketiga, Pihak penjual makanan kini berevolusi dari warung makan menjadi gerai makanan cepat saji (fast food). Dan ini gerai ini beragam jenis dan berdiri di hampir setiap sudut kota disetiap negara. Dari manakah supplay bahan bakunya berasal? Sudah tentu dari perusahan-perusahaan yang saya sebutkan diatas, dan atau anakan mereka. Sebut saja perusahaan seperti McD, KFC, Burger King sangat familiar dalam keseharian kita, belum lagi perusahaan gerai cepat saji lainnya.
Poin Keempat (terakhir), sebuah lembaga yang menjadi tumpuan kepercayaan kita tentang makanan tak lagi bersifat independen untuk kebutuhan rakyat banyak. Namun sebaliknya telah disusupi elit-elit politik dalam pemerintahan. Dalam film disebutkan petinggi-petinggi di Food and Drug Assosiasion (FDA) juga merupakan elit pemerintahan amerika, yang menyebabkan kebiajakan makanan yang diambil bisa saja akan dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu. Di Indonesia sendiri BPOM masih belum bisa banyak membantu mengatasi banyaknya permasalah tentang makanan yang dihadapi konsumen.

Bagi saya, film yang berjudul Food. Inc ini sangat bagus karena disugukan kepolosan dan kejujuran di setiap scinenya. Tidak salah bila film yang diprakarsai oleh Robbert Kenner & Michael Pollan ini mendapatkan beberapa penghargaan seperti The Academy Award, Independen Spirit Award dan beberapa penghargaan lainnya. Setelah sesi nonton bareng film dokumenter ini dilanjutkan dengan diskusi dan sharing dari pembicara yang telah diundang panitia. Saya yang kala itu menjadi moderator mendapatkan beragam masukan mengenai problematika ini dari kak Wahyu dan kak Genio, pembicara dalam acara kita saat itu. Masing-masing pembicara bercerita pengalaman mereka dalam bidang industri pangan dan mengajak peserta berdiskusi bersama.

Kak Genio yang merupakan mahasiswa semester akhir jurusan tata boga STP Nusa Dua, menjelaskan bahwa Indonesia dan khususnya Bali masih tergantung dengan produk hasil dari sistem global yang sudah terbentuk. Misalnya ayam bloiler adalah supplay daging utama yang digunakan di restaurant-rentaurant, sekalipun restaurant tersebut memasang menu makanan organik di daftar menunya, namun di dapur sangat mungkin masih sama menggunakan bahan produk GMO. Kak Genio juga menjelaskan bahwa masih banyak gerai makanan yang sangat bersih dan rapi bagian depannya (tempat makan konsumen) namun tidak terjamin higienisan di dapurnya.

Bila kak Genio lebih menyampaikan realita industri pangan yang terjadi di dalam negeri, pembicara kedua, Kak Wahyu berbagi pengalamannya saat belajar singkat di Jepang dan Milan tentang pertanian. Kak Wahyu yang merupakan mahasiswa semester akhir jurusan agroekoteknologi, FP UNUD ini bercerita tentang bagaimana petani di Jepang mampu berdikari, yakni berdiri diatas kaki sendiri, -kaki para petani. Disampaikan bahwa petani disana telah mampu membuat kesinambungan hulu hilir pertanian. Hulu dalam penanaman mereka menggunakan green house dengan berbagai perhitungan pertumbuhan. Setiap wilayah memiliki laboratorium, tempat menanam, produksi, dan penjualan sendiri yang bernaung dalam JA (Japan Agriculture). Namun JA sendiri tidak ada garis komando dari pemerintah Jepang, murni dari petani, oleh dan untuk petani. Disampaikan bahwa olahan produk seperti minuman kemasan udah sampai ada di vading michine di wilayah tersebut, supermarket-supermarket menampung hasil-hasil petani dengan rapi dan beragam produk olahan. Bagi saya ini dapat menjadi inspirasi bagi negara kita menanggapi perkembangan industri pertanian kedepan. Kemudian kak Wahyu juga menyampaikan pengalamannya ketika menjadi delegasi Slow Food Bali ke Milan, Italy. Tak jauh berbeda dari Jepang yang telah terbangun agriculture dengan berwawasan local comunity, di Milian juga disampaikan bahwa masing-masing daerah yang ditemui dihidupi oleh small scale industry dari rumah warganya sendiri.

Tentu, setiap sistem memiliki kelemahan dan kelebihan, begitu juga dengan sistem makanan global saat ini. Namun paling perlu kita lihat adalah posisi kita didalam sistem tersebut. Apakah hanya elemen pendungkung (bahkan hanya konsumen)? Ataukah kita adalah pemain utama dari sistem makanan global? Ini perlu kita cermati.

Kini negara kita berada di pesimpangan. Walau memiliki suberdaya yang berlimpah negara kita belum mampu untuk mengembangkannya dengan maksimal. Pertanyaannya adalah: apakah akan melawan sistem industri cepat saji saat ini dengan sistem yang serupa dengan memanfaatkan sumber daya lokal? Ataukah Indonesia akan mengembangkan makanan berdasarkan wilayah-wilayah yang memiliki budaya yang serupa dengan konsep local community ala Jepang? Pertanyaan yang harusnya mampu dijawab oleh anak anak pangan negri ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berikut kutipan motivasi saya untuk anak pangan di seluruh Indonesia.

Bila kita mengabil industri pertanian, khususnya industri pangan, janganlah malu. Dokter bisa membuat orang sembuh, namun makananlah yang membuat orang sehat. Ilmu tentang modifikasi makanan, quality control dan juga managementnya adalah anak-anak pasca panen dalam lingkup agrokomplek yang mengerti. Jadi apakah kita biarkan bidang ini tak dipengang bukan oleh bidangnya? Membiarkan masih saja generasi tua saat ini saja yang memegang instansi seperti BPOM? Kita harus bergerak. Walaupun saya sendiri tidak tahu diamana saya akan bekerja kelak. Setidaknya mari kita ikut serta menentukan langkah. Apakah membuat industri pertanian manufactur besar ala Amerika atau mengembangkan pertanian dengan local community ala Jepang ? Pilihlah dan bergerak. Industri Pangan Masa depan negeri ini adalah pilihan dari kita, generasi saat ini. Semoga kita dapat memilih yang terbaik.

Hi kawan, masih sibukkah menanggapi gengi karena masuk kampus dengan citra ‘pertanian’? atau sudah siapkah kita saat ini bersatu padu menghadapi tantangan ini?

Salam,
IGM Teddy Pradana
Staff Kementrian Pengembangan Sumber Daya Manusia

FORAGRIN

You Might Also Like

1 comments

  1. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Great, I like this blog.
    http://www.mgmdomino.com/

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung. Semoga hari anda menyenangkan. Salam hangat,