Hai Calon Mahasiswa Baru, Sudah siapkah menjalani step Selanjutnya ?

10:13 PM


Tidak dipungkiri masa putih abu-abu adalah masa-masa yang sangat asik dan menyenangkan oleh siapapun, termasuk diri saya. Walaupun pernah terpuruk, jatuh, atau di bully kawan sekelas, ketika perpisaaan SMA itu berjalan, semua akan menjadi kenangan yang manis, dan ingin rasanya terulang. Tapi kini kita sudah menginjak mahasiswa, masa kuliah dan memilih jurusan yang akan kita geluti untuk kehidupan kita selanjutnya. Kita gak bisa lagi sama-sama, apalagi melihat kenyataan di dunia kerja nanti, kita akan saling bertarung satu sama lain. Ada beberapa hal yang menjadi fokus perubahan yang terjadi dari masa SMA ke masa Kuliah, saya coba rangkum sebagai berikut.

Pemahaman Materi, Do Action dan IPK

Nilai? Menurut kalian apa sih itu nilai? Jikalau dilihat dari arti yang masih saya inget saat duduk di bangku SMP guru saya mengatakan “Nilai adalah sesuatu yang menunjukan kwalitas, berharga, bermutu dan berguna bagi manusia”. Setujukah kalian? Dikepala saya, presepsi akan nilai adalah seperti ini: Nilai adalah kesamaan harapan-harapan dari si penilai yang digambarkan dengan batasan angka-angka.

Diawal saya ingin bertanya, apakah kamu pengejar nilai?

Saya ingin bercerita sedikit anggapan saya akan nilai serta sedikit pengalaman. Saat SMP saya sangat menghargai nilai, dengan giat belajar saya bisa mendapat Juara 1 dikelas waktu itu. Ya sesuai lah dengan usaha yang dilakuin. Walau praktek ngrepek atau nyontek mulai saya liat dari kawan-kawan saya tapi saya lebih memilih belajar yang bener hingga mengerti. Kemudian saat ujian saya menjadi pelit karena mereka yang bertanya tidak mengerti bagaimana rasanya proses saya belajar. Intinya pandagan saya waktu itu terhadap nilai memang dapat menunjukan pemahaman akan materi yang diperoleh.

Lanjut ke masa SMA. Saya dapat sekolah favorit di Kabupaten saya, dan pengalaman benar-benar baru terjadi. Proses belajar dan penilaian tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Contek mencontek merupakan kegiatan yang lumrah, les guru pendongkrak nilai, proses setting nilai biar jadi kurva naik (katanya biar gampang nanti nyari sekolah), katrol nilai dan praktik yang lainnya. Disini mulai titik awal saya berpendapat bahwa nilai itu tidak penting, dalam artian, seberapa usahamu untuk memahami materi, ya relakan nilaimu segitu. Daripada berfokus pada besar-besaran nilai, saya mulai untuk belajar untuk memahami setiap materi yang ada dan let’s do it, mempraktekannya.

Saat Kuliah? Ya tentu konsep saya akan nilai tidak akan berubah. Pernah seorang adik kelas bertanya kepada saya, “kak kok IPKmu segitu, mau aja dikalahin si X, malu aku, dia kan dlu sekolah swasta di depan sekolah kita” tanyanya seakan tak terima. Menurut saya, IPK adalah interpretasi dari apa yang sudah kita pahami akan materi kuliah. IPK kecil nanti ga dapet kerja? Tenang aja, IPK bukanlah persyaratan mutlak untuk lulus seleksi kerja, ada namanya softskill yang bisa kamu dapet misalnya dengan aktifan oraganisasi, dia juga liat attitude kamu, prestasi minat bakatmu dan yang lainnya. Toh kalau emg ga bisa lolos lamar kerja kamu bisa berwirausaha. Saya yakin kalau kita orang yang dapat memahami dan menerima kemampuan kita, kita akan lebih sukses dari mereka ya tipu-tipu atau suka cari mukak dosen.

Sadari kemampuan kita, termasuk kelemahannya. Jadikan itu acuan menjadi lebih baik. Buatlah IPK menyajikan yang sebenarnya. Sadari kita bukan dewa yang bisa sempurna di semua lini. But, jangan juga berkecil diri, kalau memang harusnya kamu dapet nilai gede jika dilihat dari usaha kerasmu belajar dan pemahamanmu terhadap materi. Sistematika penialaian juga sudah kamu ikuti namun IPK mu cuman 1,5 misal, ya ngusul ke dosennya lah. Kalau kamu diem aja ya artinya lo terlampau polos (baca: begok). Intinya nilai = seberapa kita paham akan materi itu dan dapat memprakteknannya.

Prilaku, Pergaulan dan Teman.

Masa SMA enaknya adalah kita bisa bareng-bareng terutama dengan kelas, baik itu tour, bolos, mata pelajaran, bermain, kerja kelompok. Ya enak banget ya. Tapi sekarang kita ajan menginjak yang namanya mahasiswa. Sudah saatnya kita mengerti bahwa jurusan kita berbeda-beda, mata kuliah yang kita ambilpun berbeda. Banyak hal yang berubah, dan inipun akan merubah prilaku kita dalam bergaul dan bersosial.

Prilaku, terutama dalam proses belajar kita akan berubah. Dahulu kita dapat kesana kemari belajar bersama karena pelajarannya sama. Kita bisa ngandalin temen dan asik bermain, mungkin sekarang sudah mulai ga bisa gitu. Apalagi ini kan jurusan yang kamu pilih, bukan ? harusnya kamu suka dong pelajarannya J Kamu sebaiknya sudah mulai serius belajar dan mencoba mengerti bidang ilmu yang kamu pelajari. Karena walaupun mata kuliahnya sama, antara satu universitas dan universitas lain memiliki metode dan penekanan akan materi yang dibawakan, toh juga jurusan yang sama di satu pulau belum tentu pelajarannya sama persis kan. Mulailah rajin membaca buku berkaitan dengan bidang studi. Membaca jurnal-jurnal dan artikel ilmiah, serta jangan lupa pengetahuan umum biar ga ketingganalan informasi publik. Prilaku kamu dalam pergaulan juga harus ditentukan polanya, apakah kamu tipe orang kuliah-belajar-pulang, suka nangkrong, suka organisasi atau asah minat, atau apa ? silakan tentukan. Hal-hal yang sifatnya ga boleh pas SMA seperti pakaian yang ga rapi, rambut yang panjang, ngerokok, minum-minum, main judi, nonton video 18+, ya semua kamu sudah bisa konsumsi itu karena kamu udah gede sekarang, saatnya kamu pilih apa yang boleh apa yang engga.
Tan Malaka pernah berkata “Idealisme adalah harta terakhir pemuda” jadi buat kamu yang merasa pemuda, milikilah idealisme atau sikapmu akan sesuatu. Cara saya sendiri dalam berprilaku saat ini adalah “Jadilah tidak terlalu berbeda dengan yang lain, namun jangan pernah goyahkan idealisme atau prinsip hidupmu, mana yang boleh dan tidak. Batasi dirimu akan sesuatu.

Nakal itu boleh, tapi dirimu juga tau seberapa batas nakal yang sesuai denganmu. Suka kelayapan? Boleh, asal bisa aja menuhin absensi dan nguasai materi yang kamu tinggalkan di kelas.  Nilaimu jelek? Gapapa, yang penting kita udah berusaha yang terbaik, klo jelek di satu sisi cobalah menonjol di sisi lain, misal punya banyak relasi (networking) misalnya. So Gaada yang bener-bener salah ga ada yang bener-bener bener. Karena jam mati pun pernah benar dua kali walau sepanjang hari dia kebanyakan salah kan? But guys, kalau kamu emang anak yang lempeng-lempeng baik, mending terusin pola yang baik itu deh. So buat batesanmu.

Saya pernah berpikiran sangat kaku dan menyalahkan waktu dahulu masa putih biru dan putih abu. Menurut saya orang yang pacaran (pas SMP) adalah tindakan yang salah. Saya merasa orang yang merokok, nonton bokep, minum-minum atau berantem adalah anak-anak berandal semua. Dan kemudian saya mengambil satu garis lurus, mereka salah, mereka gak bener, mereka harus dijahui karena itu tidakan-tindakan yang jelek. Ya pikir saya dulu. Tapi sekarang saya berpikir sedikit agak berbeda, berawal dari mencoba mengerti apa yang mereka rasakan, sesungguhnya tak sepenuhnya mereka salah. Mungkin cara mereka salah, tapi mungkin saja maksudnya adalah baik. Coba diri kita dilihat dari sudut pandang mereka, ya sama, maksud mungkin baik, namun bisa saja dilihat salah. So, selain punya ideologi, kita juga punya yang namanya teman, alih-alih menghardiknya lebih baik kita bangun cita bersama, dan saling memberi masukan, ini lo tindakan yang ga penting bro, dan ini lo yang bagus untuk mimpimu kedepan.

Masih ingat dahulu ketika baru menginjak 17th saya mencoba masuk dengan kelompok yang lain dengan minum dan rokok. Ya dunia kaula muda kekinian disini katanya gitu biar gaul. Ga ada yang salah bila kamu terbiasa dengan ini, tapi akan menjadi masalah bila kamu tidak bisa menyesuaikan. Macem friendshipschok lah. Seorang teman berkata: dahulu kita berbagi permen atau koka, namun sekarang kita udah dewasa, kita berbagi minum dan rokok, ini hanya tentang rasa kebersamaan, dari apa yang kita bisa bagi, kita merasa lebih dekat. Nah dari kita mau ikut serta minum atau ngerokok bareng yang lain, ini membuat mereka merasa kita adalah sama, kita senasib kita bisa untuk saling berbagi. Bila sudah begini disinilah saatnya masuk untuk ngasi tau apa yang lebih baik untuk kedepannya. Apakah kegiatan minum-minum atau ngerokok ini baik terus-terusan sampe tua atau sebalik tidak baik ? kamu punya kesempatan sekarang untuk ngasi tau temenmu itu genk J. Ini cara saya, masuk ke sistem dan benerin dari dalem, begitu kira-kira. Saya tidak menganjurkan ikut jalan seperti saya, karena sesungguhnya saya tidak suka asap rokok dan minuman alkohol tinggi. Namun cerita saya ingin menyampaikan, seni pergaulan dan mempertahankan ideologimu akan cita dan baik buruk. Buat temen-temen yang sudah lempeng-lempeng jadi orang lurus, baik, silakan lanjut. Kelak pasti ada yang sejalan dengan gayamu. Intinya tiap orang memiliki pemahaman dan prilaku tersendiri yang pasti ada baiknya, tepat memilih gaya dalam bergaul adalah aset dalam jenjang hidupmu selanjutnya. Sadari kita makhluk sosial, carilah banyak teman.

SKP, Lomba, Student Exchange

SKP (Satuan Kredit Partisipasi) atau sertfikat keikutsertaan dalam suatu kegiatan terkadang menjadikan syarat untuk melanjutkan pada suatu step dalam kehidupan mahasiswa. Bisa saja syarat yudisium, atau wisuda. Pengumpulan SKP biasanya berdalih untuk mengukur keaktifan mahasiswa dalam kegiatan kemahasiswaan dan diharapkan setiap mahasiswa memenuhi jumlah SKP yang diwajibkan. Benarkah efektifnya seperti itu ?

Di Universitas tempat saya kuliah sekarang, SKP mulai saya kenal pada tahun 2002. Selain mencoba menanyakan kapan sistem SKP mulai ada, saya juga bertanya mengapa gagasan SKP ini bisa ada? Seorang kakak tingkat di era sistem tersebut dibuat menyatakan bahwasanya SKP hadir ditengah-tengah euforia reformasi. Aktivis mahasiswa yang telah berhasil mendobrak rezim orde baru telah mendapatkan “kebebasan” berkarya. Namun, lambat laun jumlah pergerakan mahasiswa semakin sedikit dan semakin berjamurnya mahasiswa pragmatis, apatis dan hanya memandang bangku kuliah sebagai barter dari jabatan pekerjaan yang diangankannya kelak. Mereka lupa akan arti sebuah perjuangan, tegasnya. Bagi saya, syarat SKP itu penting, ibarat stumulus untuk berkegiatan. Namun jangan sampai juga kita meninggalkan esensi suatu kegiatan hanya demi SKP ya guys. Misalnya membeli tiket seminar nasional yang kita ga akan paham apa yang dibicarakan, atau ikut kepanitiaan yang hanya nebeng nama, sekedar ikut. Sebaiknya, ikuti kegiatan yang benar-benar menunjang impian, harapan atau cita-cita kita. Berkegiatan tak mesti harus di kampus, kamu bisa jadi relawan, ikut komunitas, atau paguyuban. Yang terpenting adalah seberapa berdampak (positif) kegiatan yang kita ikuti bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar, bukan seberapa besar kegiatan tersebut dinilai dalam ukuran SKP. Ya kan ?

Lomba atau ajang kompetisi merupakan salah satu penyaluran minat dan bakat mahasiswa. Bila di SMA sangat mudah berinteraksi dengan kompetisi karena kedekatan wakasek kesiswaan dengan siswanya, mungkin lain halnya dengan masa kuliah. Dunia kampus memberikan banyak pilihan. Misalnya dalam memilih minat bakat kamu bebas memilih ikut yang mana. Namun, di satu sisi teman kamu juga bebas memilih untuk tidak berkegiatan di organisasi kemahasiswaan atau pengembangan minat bakat. Bila kita memiliki bakat yang membutuhkan regu untuk mengembangkannya, sesegeralah mencari tim yang solid yang bisa kamu ajak dalam lomba. Hal ini penting karena terkadang minat bakat akan ditutupi kebijakan kampus, atau kegiatan lain yang kontra-produktif.
Bila kamu bukan tipe olahragawan yang butuh tim, kamu bisa ikut kompetisi atau pelatihan akademik. Lomba seperti paper (artikel, essai, KTI), debat atau presentasi ilmiah sangat disarankan. Selain itu juga sangat baik bila kita dapat ikut serta dalam pelatihan-pelatihan untuk menambah kemampuan kita bidang tertentu. Misalnya saja latihan kepemimpinan (LKMM) latihan wirausaha, atau yang lain. Kita juga bisa untuk mengikuti pertukaran mahasiswa ke daerah lain, misalnya untuk sekolah singkat saat liburan semester. Semua “kebebasan” memungkinkan kita untuk memilih kegiatan mana sebagai jalankita dalam berkarya.  Karena di satu sisi kebebasan ini akan membuat terlena dalam santai, maka tentukanlah sejak dini kegiatan apa yang bermanfaat untuk masa depan.

Cycle of Life: Cycle of Study and Cycle of Carrier

“If you fail to plan, you’re planning to fail”. Sebuah qoute pembuka yang menurut saya memiliki arti yang sangat mendalam. Bila kita gagal dalam merencanakan, berarti kita merencanakan untuk gagal. Maka menjadi sangat penting untuk merencanakan hidup kita seperti lagu armada, “mau dibawa kemana ?”

Saya mencoba mebagi perencanaan hidup khususnya untuk calon mahasiswa dengan membaginya menjadi 2 bagian. Dua bagian yang saya maksud adalah rencana belajar dan rencana karir. Tentu saat kita tamat SMA dan ingin melanjutkan ke perguruan tinggi kita telah memiliki bayangan akan jurusan yang kita pilih. Namun biasanya kita hanya mengalir dengan apa yang terjadi selanjutnya. Tentunya akan lebih baik bilamana kita dapat merencanakan lebih awal mengenai studi kita, terutama step-step yang akan diambil di PT tempat kita belajar. Atau bahkan bila ada waktu luang semesteran, kita bisa merencanakan studi tambahan seperti summer/winter school di instansi lain dengan mengambil jurusan sesuai dengan bidang kita. Kita juga perlu untuk menyusun kemana langkah studi kita bila telah menamatkan jenjang sarjana, apakah lanjut ke jenjang pasca-sarjana (S2) atau melangkah ke karir kerja dahulu sebagai training ilmu atau bagaimana. Juga setelah proses itu berlalu kemana step selanjutnya yang kita harapkan. Ayo kita gamabarkan lebih awal dan mari kita melangkah dalam rel itu.

Seorang guru saya berkata “dunia ini adalah keadaan yang tidak nyata, yang nyata sesungguhnya adalah apa yang ada dalam pikiranmu, gambaran akan impian yang berani kamu visualisasikan dalam dunia ini”. Perkataan guru saya ini membuat saya seraya bertanya Sudah siapkah kamu dengan rencanamu?

--------------------------------
Beberapa tulisan yang masih umum akan saya coba bahas dalam tulisan saya berikutnya.
Salam.

You Might Also Like

0 comments

Terimakasih telah berkunjung. Semoga hari anda menyenangkan. Salam hangat,