Rekfeksi Hari Pangan: Hai Pangan Indonesia, apa kabarmu hari ini ?

7:23 PM


Soekarno pernah berkata “pangan adalah perihal hidup dan mati suatu bangsa”.  Menurut saya ungkapan itu benar adanya. Menginjak kehidupan abad 21 ini telah banyak revolusi maupun evolusi yang terjadi di semua sistem, tak terkecuali sistem pangan. Walau ini bersifat global, tidak hanya di Indonesia namun di seluruh belahan dunia ini, namun sebagai negara yang besar, negara dengan sejuta sumber daya alam, kita harus lebih peka terhadap situasi terkini.

Bila terdahulu sistem mengharuskan kita untuk menanam sendiri apa yang kita makan, atau kita harus kerja sama ‘gotongroyong’ untuk mendapatkan pangan, bagaimana dengan saat ini? Kini sungguh berbeda. Hampir dari kita semua menyerahkan urusan perut ini kepada pihak ketiga, right ? Banyak wanita karir yang tidak sempat lagi memasak untuk keluarganya. Satu keluarga tidak sempat lagi mengurus walau hanya sepetak tanah kebun belakang rumah untuk menanam cabai atau bayam misalnya. Kini semua telah sibuk mencari selembar kertas, hasil dari sistem riba, ekonomi kapitalis.

Saya melihat sebagian besar orang tidak akan tau darimana makanan mereka berasal. Dan sebagian lagi mereka ingin tahu, tapi mereka dipaksa untuk tidak mengetahuinya. Dari mana daging ayam yang saya makan hari ini? Susu ini dari sapi negara mana? Dan pangan lainnya. Kebijakan FDA (Food and Drug Administration) yang tidak menyetujui pencantuman asal makanan adalah trik politik negara adidaya Amerika, bagaimana dengan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Indonesia apakah bisa punya posisi tawar dengan FDA?

Layaknya pengembangan sistem teknologi, tentu kita fasih sekali dengan windows, microsoft, iOS Apple, Linux Android atau google. Mereka yang sedang mengatur teknologi kita bukan? Ketika saya mengetik pikiran saya inipun saya sedang menggunakan product dari kedua perusahaan tersebut. Ya kita telah diatur. Diatur sedemikian rupa. Itu sistem teknologi IT, bagaimana dengan sitem Pangan siapakah yang berada dibelakangnya ?

Bila kamu anak Teknologi Pangan, Industri Pertanian, Teknik Pertanian, Agroekoteknologi, Agribisnis, Lanscape, atau kamu dibawah bidang agrokompleks, marilah kita menjadi semakin peka (baca: kepo) terhadap konspirasi dari perusahaan multinasional yang sedang siap sedia menjajah kita. Tiga orang kawan telah mengikuti food expo ke India dan Italia memberikan saya banyak ilham akan rencana tertruktur perusahan-perusahaan ini. Sebut saja Monsanto, Tyson dan Smithfield, tiga perusahaan besar yang bisa disebut ‘dalang’ dari makanan yang kita makan tiap hari. Jujur saya sangat takut bila kelak petani Indonesia akan bernasib sama dengan petani India yang harus bekerja memproduksi produk GMO (Geneticaly Modified Organism) dengan sistem upah yang diatur sedemikian rupa agar mereka terus bekerja untuk perusahaan ‘itu’. Saya takut petani Indonesia kelak akan banyak yang bunuh diri seperti di India sana. Saya juga takut kelak Indonesia akan kehilangan budaya filosofi makannya, 'makan adalah anugrah dan mari kita rayakan bersama'. Saya takut ketika kelak ayam betutu kalah tenar dengan ayam crispy McD atau KFC, saya takut makanan lokal akan kehilangan budayanya, kehilangan filosofi slowfood.

Ketika kita hidup ditengah berjamurnya franchise makanan cepat saji atau fast food, kita terkadang lupa hakekat dari makanan kita sendiri. Dalam kisah mahabharata Krisna pernah berkata kepada Arjuna “apa yang engkau makan itulah engkau”. Ini mengibaratkan bahwa tindakan, perkataan, pikiran kita dipengaruhi oleh apa yang kita makan. Dan ini juga (mungkin) mengapa di Hindu sesungguhnya sangat disarankan untuk menjadi vegetarian. Menurut kalian apakah ungkapan itu benar? Saya pribadi berpendapat ‘Iya’. Karena pangan yang kita makan akan diambil sari-sarinya (senyawa minor pangan) yang kemudian digunakan untuk regenerasi sel. Bila kita makan A, maka gen kita akan teregenerasi oleh pangan A, begitu kira-kira. Kemudian, bagaimana bila kita hidup dengan memakan makanan rekayasa genetika atau kita kenal sebagai GMO product ?

Pertama kita tidak mengetahui gen atau unsur apa yang dimasukan kedalam pangan kita. Kedua apakah itu aman? Bagaimana jika untuk menstimulus pertumbuhan tanaman B misal ia menggunakan gen dari babi, apakah kita masih bisa menyadari itu sebagai makanan halal atau tidak ? belum lagi bahan yang ditambahkan bukan lagi golongan pangan. Ketiga bila kita makan, siapakah yang akan bertanggung jawab akan penyakit regeneratif dari produk tersebut? Pertanyaan yang sering teringang dikepala saya. Pertanyaan yang memacu saya untuk mengajak siapapun kalian, anak Indonesia, banggalah menjadi petani, banggalah mejadi pengolah pasca panen. Karena dengan itulah kita kelak akan dapat berguna untuk sebuah negara yang besar. 

Tentu pemerintah tidak boleh tinggal diam juga semasih kami, insan-insan muda ini berusaha tumbuh menjadi agen perubahaan dimasa yang akan datang. Kami akan bisa sampai berbunga bilamana pupuk dan berada keadaan unsur tanah yang baik, ini ibarat kebijakan pemerintah. Bila sempat terlontar Nawacita dalam masa pemerintahan sekarang, mari gaungkan kembali revolusi mental, revolusi bidang pangan. Mari kita semua mawas akan pangan, mari memulai propaganda agar cita untuk menjadi bangsa yang berswasembada pangan tidak hanya menjadi cita, tapi nyata di depan sana.

Salam Semangat Ayo Kerja,
IGM Teddy Pradana

Agroindustrialist Muda Udayana, Bali

You Might Also Like

2 comments

Terimakasih telah berkunjung. Semoga hari anda menyenangkan. Salam hangat,